Showing posts with label Jurnal. Show all posts
Showing posts with label Jurnal. Show all posts

Sunday, June 14, 2015

on Leave a Comment

INFLASI DI INDONESIA : SUMBER-SUMBER PENYEBAB DAN PENGENDALIANNYA


INFLASI DI INDONESIA :
SUMBER-SUMBER PENYEBAB DAN
PENGENDALIANNYA
Adwin S. Atmadja
Dosen Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi - Universitas Kristen Petra
 Edited by : 
Riyan Yoga Sakti
Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik
Universitas Mercu Buana

ABSTRAK

                Krisis moneter yang melanda negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, telah menyebabkan rusaknya sendi-sendi perekonomian nasional. Krisis moneter menyebabkan terjadinya imported inflation sebagai akibat dari terdepresiasinya secara tajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, yang selanjutnya mengakibatkan tekanan inflasi yang berat bagi Indonesia.
                Fenomena inflasi di Indonesia sebenarnya semata-mata bukan merupakan suatu fenomena jangka pendek saja dan yang terjadi secara situasional, tetapi seperti halnya yang umum terjadi pada negara-negara yang sedang berkembang lainnya. Dengan demikian, maka pembenahan masalah inflasi di Indonesia tidak cukup dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen moneter saja, yang umumnya bersifat jangka pendek, tetapi juga dengan melakukan pembenahan di sektor riil, yaitu dengan target utama mengeliminasi hambatan-hambatan struktural yang ada dalam perekonomian nasional.
Kata kunci : inflasi, structural bottleneck.

Thursday, December 11, 2014

on Leave a Comment

Jurnal Lingkungan (RIngkasan)

EFEKTIVITAS FILTER GERABAH TANAH LIAT, KARBON AKTIF
DAN EKSTRAK DAUN SIRIH DALAM PENGOLAHAN AIR BAKU
SKALA RUMAH TANGGA


Yusriani Sapta Dewi
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Satya Negara Indonesia
Jalan Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan
Email: yenisapta@yahoo.co.id

ABSTRAK

Cemaran oleh bakteri E.coli sangat umum terjadi di sumber air bersih rumah tangga. Salah satu alternatif pengolahan air bersih yang ekonomis tepat guna adalah cara filtrasi gerabah tanah liat. Metode penelitian menggunakan prosedur perlakuan pada air sampel. Proses filtrasi mengandalkan proses osmosis yaitu perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Hasil  penurunan kandungan  bakteri  E.coli  setelah  perlakuan  menunjukkan  variasi  dosis  ekstrak  daun  sirih  berpengaruh terhadap  penurunan  bakteri  E.coli. Komponen  fenol  dalam  minyak  atsiri  mempunyai  dasar  kuat sebagai  bahan disinfektan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri E.coli. Terdapat perbedaan nyata  pada  campuran penyusun filter  gerabah tanah liat  dalam menurunkan kadar kekeruhan air baku. Efektivitas filter gerabah tanah liat, karbon aktif dan disinfektan ekstrak daun sirih  terhadap  penurunan kadar kekeruhan dan  kandungan bakteri E.coli,  tercapai  jika  dilakukan sesuai dengan komposisi tepat.

Kata kunci : bakteri E.coli, disinfektan, daun sirih, filtrasi, dan gerabah tanah liat.

PENDAHULUAN


Meningkatnya pertumbuhan penduduk dan peningkatan pembangunan ekonomi, menyebabkan pengalokasian sumberdaya air bersih (fresh water) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat manusia dan peningkatan pertumbuhan ekonomi mengalami diversifikasi dan cenderung menimbulkan  sifat  kelangkaan. Air  untuk konsumsi minum  tidak boleh mengandung bakteri patogen sama sekali dan tidak boleh mengandung bakteri E.coli melebihi batas-batas yang telah ditentukan. Salah satu teknik penjernihan air yang telah lama dikembangkan adalah saringan pasir Lambat. Filter gerabah yang dibuat dari campuran tanah liat dan dibakar pada temperatur 900oC selama 8 jam. Dari  penelitian  yang dilakukan, ternyata filter tersebut mampu menyisihkan antara 97,8% dan 100% bakteri. Hipotesis dalam penelitian ini adalah filter gerabah campuran tanah liat dan karbon aktif serta pemanfaatan disinfektan ekstrak daun sirih.

METODE


uPersiapan Instalasi
Gerabah tanah liat sebagai filter I dalam penelitian ini terbuat dari campuran tanah liat dan karbon aktif. Disinfektan ekstrak daun sirih dengan kadar 30% . Objek percobaan yang digunakan dalam penelitian  ini  adalah  air  sumur  di desa Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Bekasi.
uProsedur Penelitian
Air sampel dialirkan secara  gravitasi, melalui masing-masing filter gerabah tanah liat, hasilnya ditampung dalam beberapa bak penampung luar. Air tampungan tersebut masing-masing diberi disinfektan ekstrak daun sirih. Dengan variasi volume 0 ml, 5 ml, 10 ml, 15 ml. Setelah diaduk merata, didiamkan selama 30 menit. Air sampel dialirkan kembali melalui filter gerabah tanah liat untuk mengurangi kekeruhan. Air akan mengalir secara gravitasi, merembes melewati pori-pori dinding gerabah.

ANALISIS DATA


Parameter yang dianalisis untuk air baku dan air hasil olahan meliputi kekeruhan dan cemaran bakteri E.coli. Metode pengukuran kekeruhan menggunakan Metode Nefelometrik, sedangkan pengujian E.coli menggunakan metode MPN 333 menurut Formula Thomas. Nilai penurunan dinyatakan dalam persen dengan formulasi umum sebagai berikut:
E=  (Co-Ci)/Cox 100% E = efisiensi penurunan parameter; Co= konsentrasi sebelum pengolahan; Ci =konsentrasi sesudah pengolahan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap.
Y_ij=µ+Ti +βj + εij Di mana Yij = pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j; μ = mean populasi; τi = pengaruh aditif dari perlakuan ke-i; βj = pengaruh aditif dari kelompok ke-j; εij= pengaruh acak dari perlakuan ke-i dan kelompok ke-j; dengan i = 1,2,3,…t dan j = 1,2,3…r

HASIL DAN PEMBAHASAN


uEfektivitas penurunan kandungan bakteri E.coli
Pada pemeriksaan awal, air sumur sampel mengandung bakteri E.coli cukup tinggi yaitu  2400 MPN/100 ml. Setelah mengalami perlakuan dengan gerabah tanah liat filter I kandungan E.coli turun menjadi 1400 MPN/100 ml, sedangkan perlakuan dengan gerabah tanah liat filter II E.coli turun menjadi 1300 MPN/100 ml. Proses filtrasi air oleh filter gerabah tanah liat mengandalkan proses secara osmosis. Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air. Dalam proses filtrasi, kandungan bakteri E.coli akan disaring oleh pori-pori dari filter gerabah tanah liat. Pemberian disinfektan diharapkan dapat menurunkan kandungan E.coli lebih besar lagi.
Pada gambar 3, Perlakuan dengan variasi filter gerabah tanah liat tanpa  pemberian  disinfektan  ekstrak  daun  sirih, mempunyai  tingkat  efektivitas  penurunan kandungan  bakteri  E.coli  pada  filter  I  sebesar 41,6  %  dan  pada  filter  II  sebesar  45,8  %. Sementara  dari  hasil  penelitian  terdahulu menyatakan  bahwa  membran  keramik  mampu menurunkan  kandungan  bakteri  E.coli  sebesar 98% (Kasam dkk.,2009).  Perbedaan cukup besar yang  terjadi  pada  tingkat  efektivitas  penurunan bakteri E.coli  yang dilakukan Kasam dkk, adalah karena  perbedaan  pemakaian  campuran  gerabahtanah  liat  yang  mempengaruhi  ukuran  pori-porigerabah tanah liat  serta  perlakuan  waktu  kontak air pada filter gerabah tanah liat.

uEfektivitas penurunan kadar kekeruhan
Hasil pengukuran kekeruhan air sumur sampel menunjukkan 11 NTU. Setelah mengalami perlakuan dengan gerabah tanah liat filter 1 kadar kekeruhan turun 50,9% menjadi 5,4 NTU,  sedangkan perlakuan dengan gerabah tanah liat dengan filter II kadar kekeruhan turun 56,4% menjadi 4,8 NTU. Penurunan parameter kekeruhan tersebut karena adanya tekanan osmosis secara alami atas larutan. Namun dengan perlakukan disinfektan ekstrak daun sirih,  kadar kekeruhan mengalami peningkatan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara penambahan variasi volume disinfektan ekstrak daun sirih dengan peningkatan kekeruhan.  Semakin banyak pembubuhan ekstrak daun sirih menyebabkan kenaikan kekeruhan pada air sampel. Hal ini ditunjukkan pada gambar 4.
Setelah kembali diperlakukan dengan filter gerabah tanah liat, air yang mengandung disinfektan ekstrak daun sirih mengalami penurunan kekeruhan. Kadar kekeruhan sudah memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai Permenkes RI tentang persyaratan air minum, yaitu di bawah 5 NTU.  Rerata  efektivitas  penurunan  kadar kekeruhan menggunakan filter I sebesar 50,9% tidak jauh berbeda dengan penurunan kadar kekeruhan sebelum air diperlakukan dengan disinfektan. Gambar 5 menunjukkan efektivitas penurunan kadar kekeruhan setelah air diperlakukan dengan filtrasi kembali.

KESIMPULAN


Filter gerabah tanah liat dengan campuran karbon aktif serta penambahan disinfektan ekstrak daun sirih, efektif menurunkan kandungan bakteri E.coli dan menurunkan kadar kekeruhan dalam pengolahan air baku. Perlakuan proses filtrasi dengan filter gerabah tanah liat menunjukkan adanya penurunan kadar kekeruhan dan menunjukkan perbedaan yang signifikan antara perbandingan tanah liat dan karbon aktif sebagai penyusun filter gerabah tanah liat. Penurunan kadar kekeruhan terjadi karena adanya tekanan osmosis secara alami atas larutan, sehingga air jernih mengalir melintasi membran semipermeabel. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pembubuhan ekstrak daun sirih dapat menurunkan bakteri E.coli secara efektif dengan volume 15  ml, dengan efektivitas penurunan mencapai 100%. Hasil perhitungan untuk perlakuan ternyata terdapat perbedaan yang signifikan antara variasi jumlah ekstrak daun sirih terhadap penurunan bakteri E.coli.

SARAN


Filtrasi  dengan  gerabah  tanah  liat  dengan campuran  karbon  aktif  serta  ekstrak  daun  sirih dapat  digunakan  sebagai  alternatif  teknologi tepat  guna  pengolahan  air  baku  skala  rumah tangga;  namun  perlu  dilakukan  penelitian  lebih lanjut  untuk  mencari  ketebalan  media  karbon aktif  dan  diameter  media  yang  optimal  untuk mendapatkan  hasil  yang  optimal.  Supaya  tidak menimbulkan  warna  dan  kekeruhan,  ekstrakdaun sirih diambil dengan cara penyulingan.

DAFTAR PUSTAKA


uAnwar, Affendi dan Ansofino, Beberapa Dimensi Masalah Sumberdaya Air Ke Arah Pengelolaan  Optimal, Penyelamatan Tanah, Air, dan Lingkungan. Ed. Sitanala Arsyad dan Ernan Rustiadi. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.
uCheremisin, P.N and Ellerbusch, F. Carbon Adsorption, Hand Book. Michigan: J. Ann Arbor Science. Pub., Inc.,1980.
uChristady H. Hadiatmo. Mekanika Tanah I. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2002.
uEdwin,Frank.“Pengaruh Senyawa Boraks Dalam Modifikasi Karakteristik Lempung Montmorilonit Untuk Bodi Earthenware”.Jurnal Keramik dan Gelas Indonesia 15(2006).
uIndonesia.KemenKes Republik Indonesia. Permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta: Kemenkes, 2010.
uIndonesia. Kementerian Lingkungan Hidup. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2010. Jakarta: KLH, 2011.
uKartasapoetra, G. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Rineka Cipta, 1992.
uKasam,  Eko  Siswoyo,  Rina  Ayu  Agustina.
u”Penggunaan Membran Keramik untuk Menurunkan Bakteri E.Coli dan Total Suspended Solid(TSS) pada Air Permukaan”. Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan. 1 (2009): 71-79.
uKiuk, Irman Julferi. ”Penyediaan Air Bersih Di Wilayah Pesisir Dengan Menggunakan Filter Tembikar Studi Kasus Pantai Kenjeran Surabaya”. Tugas Akhir., ITS Surabaya,(2008).
uMontgomery, J.M. Water treatment Principles and Design. Jhon Wiley & Sons, Inc USA,1985.
uNarto, Siti Hani Istiqomah, Nurs t . ”Uji Kualitas Air
uMineral Kemasan dan Pemurnian Air Menggunakan Lempung Aktif”. Sanitasi Jurnal Kesehatan Lingkungan. 1 (2008): 93-101.
uRini, D.M. dan Mulyono. Khasiat dan Manfaat Daun Sirih Sebagai Obat Mujarap dari Masa ke Masa. Jakarta: PT Agromedia Pustaka,2003.
uSastroamidjojo, S. Obat Asli Indonesia, Jakarta: Dian Rakyat,1997.
uSekewael,  Serly  J.  ”Karakteristik Sifat Fisiokimia Komposit Besi Oksida Montmorilonit Hasil Interkalasi Silikat Lempung Montmorilonit”. Indonesia Chimica Acta.1(2008):24-32.
uSukarma, Risyana. Buku Panduan Pembuatan Saringan Keramik. Jakarta: Yayasan Tirta Indonesia Mandiri, 2011.
uSutrisno, T dan Suciati, E. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Yogyakarta:Rineka Cipta,1991.
uVinka  A.  Oyanedel-Craver,  James  A.
uSmith.”Sustainable Colloidal-Silver Impregnated Ceramic Filter for Point of Use Water Treatment”. Journal Environment Science & Technology. 42(2008):23-45
uYuliat dan Yayan Suryan .”Teknek  Pengolahan  Air Minum Menggunakan Clay-Alam Bagi Masyarakat Di Bantaran Sungai Code Yogyakarta”. Inotek.11(2007):141-154.

Friday, October 3, 2014

on Leave a Comment

Jurnal Kimia



PEMBUATAN KITOSAN MAKROPORI MENGGUNAKAN EPICHLOROHYDRIN SEBAGAI CROSS-LINKER DAN APLIKASINYA TERHADAP ADSORPSI METHYL ORANGE

Riyan Yoga Sakti
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana
Meruya Selatan, Jakarta Barat
(Berasal dari jurnal Mahasiswa UniBraw)

ABSTRAK
Kitosan makropori dibuat dengan garam dapur atau Natrium Klorida (NaCl) sebagai porogen dan epichlorohydrin sebagai cross-linker. Faktor yang berpengaruh terhadap adsorpsi methyl orange oleh kitosan makropori yang dikaji pada penelitian ini yaitu pH larutan, waktu kontak, dan komposisi kitosan:epichlorohydrin. Hal ini ditunjukkan oleh pH larutan yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap proses adsorpsi. Kondisi optimum adsorpsi methyl orange dicapai pada pH 7 dengan waktu kontak 60 menit. Perbandingan komposisi kitosan:epichlorohydrin (1:40) menunjukkan komposisi terbaik untuk adsorpsi methyl orange dengan kapasitas adsorpsi sebsesar 8,538 mg/g dan konstanta laju adsorpsi (k) sebesar 0,033 menit-1
Kata kunci: adsorpsi, kitosan makropori, methyl orange.

PENDAHULUAN
Makropori merupakan material berpori yang lebar internal porinya lebih besar dari 50 nm. Metilorange merupakan zat warna anionik dengan gugus azo yang banyak digunakan dalam industri tekstil dan berbahaya bagi lingkungan karena bersifat racun, karsinogenik dan mutagenik [3,4]. Adsorpsi merupakan teknik penghilangan zat warna pada limbah yang paling popular, karena metode tersebut cukup efektif, mudah dilakukan, dan relatif murah [3]. Kitosan merupakan adsorben yang berpotensi, karena ergolong adsorben yang murah[5]. Adanya gugus fungsi amino pada kitosan memberikan sifat adsorpsi untuk banyak ion logam dan pewarna organik [6].
Pada penelitian ini, kitosan makropori dibuat dengan menggunakan epichlorohydrin sebagai cross-linker dan garam NaCl sebagai porogen dan aplikasinya untuk adsorpsi zat warna methyl orange. Garam NaCl disamping harganya murah dan mudah didapat, dapat bercampur dengan kitosan namun tidak bereaksi dan dapat segera dihilangkan dengan cara pencucian, sehingga dapat membentuk pori[8]. Penggunaan cross-linker pada kitosan yaitu untuk meningkatkan stabilitas kitosan dalam medium asam [9,10], serta meningkatkan sifat adsorpsi[11]. Penggunaan epichlorohydrin sebagai cross-linker memiliki keuntungan, yaitu tidak menghilangkan gugus amina pada kitosan[11].
METODA PENELITIAN

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kitosan , garam dapur merek Revina, CH3COOH, NaOH, epichlorohydrin, dan  methyl orange. Alat yang digunakan adalah adalah ayakan 60-100 mesh, pH meter merk Hanna, neraca Ohaus Adventurer, oven merk Memmert, shaker  merk Hitachi tipe TM 3000,  magnetik stirer,  Spektrofotometer UV-Vis merk Shimadzu tipe UV 1601, Spektroskopi inframerah.

Prosedur Pembuatan Kitosan Makropori

Kitosan sebanyak 4 g dilarutkan dalam 100 mL CH3COOH 5%. 25 g campuran tersebut ditambahkan x mg epichlorohydrin. Kemudian ditambahkan 10 g garam dapur dengan ukuran  150-250 µm. Kemudian dituangkan kedalam gelas petri dan didiamkan selama 20 jam kemudian dioven pada temperatur 70oC selama 5 jam. Membran kering yang terbentuk direndam dalam 10 mL larutan NaOH 1M selama 2 jam. Kemudian dicuci dengan menggunakan akuades hingga bebas klorida. Selanjutnya dioven pada temperatur 110oC hingga massa konstan.

Adsorpsi Methyl orange

Pada penentuan pengaruh pH sampel terhadap adsorpsi, larutan methyl orange 20 ppm dengan kisaran pH 3-8 sebanyak 100 mL ditambahkan 0,2 g kitosan:epichlorohydrin (1:20). Kemudian dikocok dengan menggunakan shaker pada kecepatan 100 rpm selama 2 jam. Pada penentuan pengaruh komposisi kitosan:epichlorohydrin terhadap adsorpsi methyl orange, 100 mL larutan  methyl orange  20 ppm pH 7 masing-masing ditambahkanditambahkan 0,2 gram kitosan makropori dengan variasi kitosan:cross-linker (1:20, 1:40, dan 1:60) dan kitosan tanpa porogen.  Kemudian dikocok dengan menggunakan shaker pada kecepatan 100 rpm selama 3 jam.





Penentuan Waktu Kontak Optimum terhadap Adsorpsi Methyl orange
Larutan methyl orange  20 ppm pH 7 sebanyak 100 mL ditambahkan 0,2 g kitosan:epichlorohydrin (1:20). Kemudian dikocok dengan menggunakan shaker pada kecepatan 100 rpm selama 3 jam. Pemipetan larutan setelah adsorpsi dilakukan pada waktu tertentu (x= 0, 1, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 45, 60, 120,150 menit dan 180 menit).

Penentuan Konsentrasi Methyl Orange
Larutan methyl orange sebelum dan setelah adsorpsi sebanyak 5 mL diencerkan pada labu ukur 25 mL dan  diukur absorbansinya pada  λ=  462  nm dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakterisasi Kitosan
Morfologi kitosan makropori diketahui dengan pengamatan dengan menggunakan SEM. Kitosan makropori hasil penelitian (Gambar 1) memiliki diameter pori yang berbeda, pada rentang 14,6–24,9 µm. Karakterisasi kitosan makropori mengggunakan FT-IR  menunjukkan adanya  vibrasi C-O-C stretching asym  pada 1099,35 cm-1 yang merupakan hasil reaksi epichlorohydrin dan gugus hidroksil pada kitosan. Pada bilangan gelombang 1315,36 cm-1 muncul puncak serapan  yang menunjukkan vibrasi C-N amina sekunder yang merupakan hasil reaksi epichlorohydrin dan gugus amina pada kitosan.

Adsorpsi methyl orange
Pada penelitian ini optimasi adsorpsi methyl orange ditentukan parameter pH larutan dan komposisi kitosan:epichlorohydrin. pH larutan mempengaruhi muatan permukaan adsorben, derajat ionisasi dan analit dapat  terserap dalam adsorpsi tersebut[12]. Hasil penelitian (Gambar 2) menunjukkan adsorpsi fisik lebih mendominasi proses adsorpsi yang ditunjukkan oleh pH larutan tidak memiliki dampak signifikan terhadap adsorpsi methyl orange dengan perbedaan adsorpsi <1%.
Pada pH 3 hingga pH 5, terjadi penurunan jumlah methyl orange yang teradsorpsi, karena  pada pH<pKa  kitosan (6.5), sebagian gugus amina kitosan akan terprotonasi menjadi NH3+,  adsorpsi  sebagian dipengaruhi oleh interaksi 185 elektrostatik antara NH3+ pada kitosan dengan  SO3- pada methyl orange.  pH optimum adsorpsi methyl orange dicapai pH 7, dimana jumlah ion H+ dan OH larutan menstabilkan muatan negatif dari methyl orange, sehingga adsorpsi yang terjadi maksimum.
Pengaruh variasi perbandingan kitosan:epichlorohydrin terhadap adsorpsi methyl orange oleh kitosan makropori tersaji pada Gambar 3.


Kapasitas dan Konstanta Laju Adsorpsi Methyl Orange pada Kitosan Makropori
Hasil penelitian (Gambar 4) bahwa waktu kontak berpengaruh terhadap adsorpsi methyl orange  kitosan makropori. Waktu optimum tercapai pada menit ke-60, pada kondisi ini semua sisi aktif NH3+ pada kitosan dan pori kitosan makropori telah berinteraksisi dengan methyl orange secara maksimum. Pada menit ke 120-180 menunjukkan telah terjadi kesetimbangan adsorpsi dimana laju adsorpsi sama dengan laju desorpsi.

KESIMPULAN
Adsorpsi methyl orange pada kitosan makropori diduga adsorpsi fisik dan adsorpsi kimia. Adsorpsi fisik mendominasi proses adsorpsi yang ditunjukkan oleh pH larutan yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap proses adsorpsi. Kondisi optimum adsorpsi dicapapai pada pH 7 dan  pada menit ke-60.  Kitosan makropori dengan komposisi kitosan:epichlorohydrin 1:40 menunjukkan hasil adsorpsi yang paling baik, kapasitas adsorpsi sebsesar 8,538 mg/g dan konstanta laju adsorpsi (k) sebesar 0,033 menit-1.
.






DAFTAR PUSTAKA

1.  Sharma, S.K., dan Sanghi, R., 2012, Advances in Water Treatment and Pollution Prevention, Springer, New York. 8.538 mg methyl orange /g kitosan makropori187
2. Xia, Y., dkk, 2003, Macroporous Materials Containing Three-dimensionally PeriodicStructure, Yang, P., The Chemistry of Nanostructured Material, World ScientificPublishing, London.
3. Shiue, A., Ma, dkk, 2012, Adsorption Kinetics and Isotherms for the Removal Methyl orange from Wastewaters using Copper Oxide Catalyst Prepared by the Waste Printed Circuit Board,Sustain. Environ, Vol. 22(4), pp. 209-215.
4. Asiagwu, A.K, dkk, 2013, Kinetic Model for the Removal of Methyl orange (Dye) From Aqueous Solution Using Avocado Pear (Persea Americana) Seed, Journal of Chemical, Biological and Physical Sciences, Vol. 3(1), pp. 48-57.
5. An-Chong, C., dkk, 2006, Using Nacl Particles as Porogen to Prepare a Highly Adsorbent Chitosan Membranes, Membrane Science, Vol. 280, pp.163-174.
6. Saha, T.K, dkk, 2010, Adsorption of Methyl orange from Aqueous Solution, J. Water Resource and Protetion, vol. 2, pp. 898-906.
7. Liu, C., dkk, 2004, Sodium Tripolyphosphate (TPP) Crosslinked Chitosan Membranes and Applicatioin in Humic Acid Removal, American Institute of Chemical Engineers, New York.
8. Mohamed, H.M. dan Wilson,L., 2012, Porous Copolymer Resins: Tuning Pore Structure and Surface Area with Non Reactive Porogens, Nanomaterials, Vol.2, pp.163-186.
9. Prayoga, I., 2012, Pengaruh Konsentrasi Glutaraldehida yang Ditambahkan pada Membran Kitosan Terhadap Kinerja Biosensor Konduktometri Diazinon,  Skripsi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang.
10. Huang, R., dkk,  2013, Adsorption of Methyl orange onto Protonated Cross-linked Chitosan, Arabian Journal of Chemistry, pp. 1-9.
11. Vieira, R.S., dan Beppu, M.M., 2008, Chitosan as Adsorbent for Heavy Metal Ions:Performance and Adsorption Mechanism, Robinson, L.N,  Water Resources Research Progress, Nova Science Publicer, Inc, New York.
12. Riapanitra A., Tien S., dan Kapti R., 2006, Penentuan Waktu Kontak dan pH Optimum Penyerapan Metilen Biru Menggunakan Abu Sekam Padi, Jurnal Molekul, Vol.1(1), pp. 41-44.
13. Arisurya, R.E., 2009, Laju  Adsorpsi   Isotermal  Β - Karoten dari Metil Ester Minyak Sawit dengan Menggunakan Atapulgit dan Magnesium Silikat Sintetik, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sunting dari salah satu Jurnal Mahasiswa Universitas Brawijaya